Tampilkan postingan dengan label MIND SET. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MIND SET. Tampilkan semua postingan

Bisakah Usaha Modal Kemauan ?

| | 5 komentar

Postingan ini adalah komentar dan status di Forum Alumni SMKN 1 Mataram

Sebelumnya saya minta maaf buat member forum yang terhormat dan AnakSasakDiRepublik Rusak, tanpa bermaksud meninggikan diri, Ini pertama kalinya saya mengomentari status yang “menggelitik” saya. Saya Angkatan 1995  SMEA 1 Mataram, Dapat Beasiswa Supersemar, Salah satu nilai STTB dan NEM terbaik jurusan Perkantoran II. Dan tahun 1996 diterima menjadi PNS, SK Februari 1997. (Kurun waktu hingga 2006, “Hanya menghitung hari”). Dan sekarang mengisi jam dan Kontributor Kewirausahaan  Mandiri  dan TIK di salah satu SMK Swasta, sebagai agen Prudential sejak 2012, Bisnis Traditional Herbal Medicine sejak 2005, Agen Gadgets Android & Aksesoris sejak awal 2010, Webmaster Web & Blogger sejak 2008.

"Kode Etik" forum ini bagus, namun perlu dipertimbangkan bahwa, "Titipan" iklan penjualan barang atau produk tidak selalu buruk. Silaturrahim membawa rezeki, jika tepat tempatnya. Forum ini disediakan gratis oleh Mark Z dan menjadikannya salah satu manusia terkaya di dunia, mengapa dibatasi ? JIka kita yang bayar saya rasa lebih ketat lagi. (he..he..he..). Sebuah peluang tergantung dari sisi mana melihatnya. Iklan bisa jadi lowongan buat seseorang, tergantung apakah dia “otak kiri” atau “otak kanan”.  Jika lowongan pekerjaan saja dibolehkan, sama saja mengatakan bahwa Lulusan SMK hanya" layak" jadi buruh, pekerja atau karyawan. Inilah yang saya rubah melalui diri saya dan saya tularkan kepada anak didik dan rekan bisnis. Bahwa, SMK bukan saja mencetak tenaga terampil siap pakai, tapi juga pandai menciptakan peluang.

Masalah Negara ini adalah pengangguran, karena jumlah “penawaran” lebih banyak dari jumlah “permintaan”. Formasi 2.500, yang daftar 25.000 orang dan setiap tahunnya bertambah. Terlalu banyak saya bertemu mulai dari lulusan SMK hingga S1 yang dibebani ijazah, tampang “keren” duit “kere”. Mengapa ? terlalu bersandar pada gelar yang mereka miliki.  Berharap sekolah dan bisa kerja, akhirnya hanya  jadi  pelayan toko seumur hidup tanpa punya keberanian memiliki usaha sendiri. Berapapun lamanya anda bekerja jadi karyawan, tidak akan ada peluang jadi pemilik..

Pernah saya tulis di www.intuisibisniscerdas.blogspot.com, www.lifenectars.blogspot.com, dll, bahwa system pendidikan kita terlalu menekankan pada IQ (otak kiri) bukannya EQ dan SQ (otak kanan). Ini salah satu penyebab banyaknya pengangguran dan kurangnya kemandirian. Impian berubah jadi mimpi dan cita-cita hanya angan semata. Bill Gates yang DO sarjana, pernah berkata, “Kesuksesan berasal dari 1% kecerdasan, 99% Kerja Keras”.  Saudara misan saya pernah saya tegur karena sibuk membawa Ijazah S2 kesana kemari untuk honor guru/dosen, padahal tempat dan ilmu ada untuk buat sekolah sendiri. Sahabat saya sering saya dengar meimliki ide usaha dan punya keinginan untuk mewujudkannya, dan jadi topik pembicaraannya saja selama 5 tahun hingga sekarang.

Kerja bukan saja di sebuah perusahaan, instansi atau lembaga. Dari rumah pun bisa dan lebih baik lagi kerja untuk diri sendiri alias punya usaha sendiri. Walaupun awalnya Cuma sebagai Reseller atau makelar dengan modal seadanya. “Dimana ada kemauan di situ pasti ada jalan”. Partner saya yang lulusan SMEA memiliki puluhan hektar lahan, asset milyaran, rumah dan mobil lebih dari 1 unit karena menolak jadi  karyawan bank. Kakak saya setelah 25 tahun jadi guru, akhirnya mencoba usaha konveksi modal Nol mulai dari pintu ke pintu, dan 5 tahun kemudian Umrah 4 kali dalam setahun, dan bisa pergi Haji, punya belasan karyawan, rumah seluas 600m² dan dipercaya Bank pinjaman 1,5 milyar.

So, Don’t be Lazy. Go action and action..!! Jangan menjadi NATO (No Action Talk Only). Modal usaha Cuma kemauan, modal dan kepercayaan akan menyusul dengan sendirinya. Bahkan “Anak yang tidak naik kelas punya kelebihan dari yang naik kelas, karena jarang sekali orang bisa merasakan rasanya tidak naik kelas”. Hidup hanya sekali, jangan disia-siakan untuk makan dan tidur menunggu mati. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat sesama. Ceritakan apa yang bisa membantu orang lain, tak perduli mereka kerjakan atau tidak. Jika anda tidak bisa sendiri, cari bantuan orang lain. Salam Sukses..!!

Readmore..

Inilah Penyebab Utama Pemula Agen Grosir Gagal Di Awal Usaha

| | 4 komentar

Bukan hal yang mudah menjual atau menawarkan suatu jenis produk pada pembeli, khususnya para pedagang grosir yang menjual barangnya pada toko atau counter. Sudah lumrah mereka gagal di awal penawaran dan akhirnya banyak yang patah arang dan mundur di saat mereka baru saja memulai usahanya.

Yang paling banyak adalah, mereka yang menjadi pedagang grosir alias pengampas yang menggunakan sistem bagi hasil dengan hanya membawa barang milik orang lain dan mendapatkan keuntungan atau penghasilan berdasarkan jumlah barang yang dijual.

Dan ini selalu terjadi, namun saya biarkan saja. Mengapa ? Ketika saya mencoba merekrut beberapa orang untuk menjadi pengampas atau agen grosir aksesori smartphone, hal ini terjadi hampir di semua pengampas baru yang mencoba peruntungannya mendapatkan rezeki melalui penjualan grosir.


Apa penyebanya ? Sederhana saja. Mereka memiliki semangat, namun kurang dalam beberapa hal sebagai berikut :
1. Knowledge Produk / Pengetahuan 
Seringkali mereka tidak menguasai secara menyeluruh tentang produk yang mereka tawarkan, artinya mereka hanya mengetahui harga dan manfaat produk secara umum tanpa mampu menguraikan secara lengkap asal usul suatu produk, kelebihan produk tersebut, teknologi produk, perbandingan harga dengan produk yang sejenis khususnya produk yang bersifat multifungsi.
2.  Prioritas Keuntungan Buat Penjual
Prioritas utama Pedagang adalah mendapatkan keuntungan sesuai dengan prinsip ekonomi, namun disinilah para pemula terjebak dengan keinginan tersebut. Sepantasnya penjelasan produk arahnya menguntungkan para pembeli khususnya yang menjadi reseller atau yang akan menjual kembali. Optimisme yang diberikan haruslah seimbang dengan harga yang mungkin menjadi pertimbangan pembeli. Jika di awal yang kita bicarakan adalah keuntungan buat mereka, mind set pembeli jelas lebih open mind.
3. Mengutamakan Jaringan Pelanggan
Tidak salah jika targetnya adalah keuntungan dalam penjualan, namun seorang pedagang grosir yang menetap atau keliling alias pengampas target uatamanya adalah mencari pelanggan sebanyak-banyaknya. Mengapa ? Karena pedagang grosir bukanlah pengecer atau toko ataupun counter yang melayani konsumen langsung, tetapi pedagang yang menjual produk secara partai atau grosiran. Pedagang grosir harus ngotot dalam menjual, sebisa mungkin mereka mampu membujuk pembeli untuk menjadi pelanggannya walaupun hanya mulai dengan 1 jenis barang saja. Jika bisa, berikutnya jauh lebih mudah.

4. Membuat Target Jumlah Pelanggan Bukan Keuntungan
Di awal membangun usaha grosir keliling, maka keuntungan menjadi no 2. Alasannya ? Kepercayaan pelanggan perlu dibangun dan menjadikan mereka sebagai pelanggan tetap adalah target utama. Oleh karena itu jika diperlukan maka keuntungan yang sudah ditetapkan harus fleksibel demi mendapatkan pelanggan baru. Apalagi persaingan jelas ada dengan produk yang sejenis.
5. Memberikan Manfaat Lebih
Setiap orang selalu mencari cara untuk mendapatkan lebih baik dalam bentuk discount, hadiah bahkan kemudahan dalam transakasi. Peluang ini bisa digunakan untuk meraih pelanggan baru antara lain dengan cara 
1. memberikan hadiah kepada pembeli dengan sistem poin, 
2. discount harga jika membeli beberapa produk sekaligus, 
3. mempermudah pemesanan produk via sms atau telpon
4. membuat katalog semua produk yang dijual
5. membuat brosur dan kartu nama

6. Memberi Kesan Baru dan Inovatif
Hampir semua orang suka hal-hal yang unik dan baru. Karena itu promosi itu sangat penting dalam membangun merk dagang yang akan memberikan kesan positif bagi calon pelanggan. Seorang pedagang grosir harus mampu mengangkat dan mengedifikasikan atau mempromosikan nama usaha atau distributornya sehingga timbul keyakinan dan kepercayaan pembeli bahwa produk yang dimiliki murah dan berkualitas dan tentunya berlanjut terus karena terkait dengan return dan garansi produk.
Ini hanya sebagian cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi penolakan calon pembeli atau pelanggan di awal usaha menawarkan produk oleh pedagang grosir pemula. Jika ikhtiar telah dilakukan, maka sisanya adalah rezeki yang bergantung pada pemberian Allah SWT. Salam Sukses..!!




Readmore..

Pengertian Intuisi dari Pakar Entrepreuner

| | 2 komentar

Intuisi, jika ditelusuri dalam Bahasa latin adalah intueor atau intueri, yang berarti untuk merenungkan atau melihat(Zohar & Marshall 2000).
Penjelasan yang paling umum adalah intuisi merupakan kemampuan individu untuk mengakses dan menyimpan pengalaman dan pengetahuan mereka dalam pikiran bawah sadar. Myers (2002) menambahkan bahwa perilaku intuitif juga mencerminkan sejarah individu pribadi.
Dari disiplin psikologi Myers (2002) intuisi adalah dianggap sebagai sesuatu yang kita lakukan setiap menit setiap hari dan itu adalah hasil dari pikiran bawah sadar. Oleh karena itu, kemampuan saya untuk mengetik tulisan ini tanpa kesadaran dari setiap huruf akan dianggap sebagai perilaku intuitif.

McCraty (2004) menyampaikan bahwa intuisi merupakan penginderaan yang terjadi di luar alam kesadaran. Dengan menggunakan hasil dari bukti eksperimental, mereka menyimpulkan bahwa jantung dan sistem saraf otonom memberikan kontribusi pada perasaan yang terkait dengan intuisi.
Sementara intuisi dalam disiplin ilmu psikologis adalah berbasis kognitif yaitu perluasan dari pengambilan keputusan, McCraty 2004), sedangkan (Bradley 2006) dan (Radin 1997b) menganggap intuisi sebagai energi halus, sebuah fenomena paranormal.

Meskipun ada sejumlah pemahaman yang berbeda terhadap apa yang disebut intuisi adalah intuisi merupakan metode pembuatan keputusan yang bersifat holistik dan non-linier. Para sarjana merasa tidak nyaman dengan konseptualisasi ini karena samar-samar sifatnya. Sangat mungkin bahwa ini hasil dari sebuah asumsi yang melekat bahwa, pengetahuan lebih mudah dijabarkan dan berharga jika explisit atau mendetil dan terbuka untuk pikiran sadar dan introspeksi (Hodgkinson & Sadler-smith 2003). Mitchell (2005) dan di Myer (2002) berpendapat bahwa penggunaan intuisi adalah bermasalah karena ada penafsiran yang terlalu banyak tentang intuisi dan terlalu banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menggunakannya, seperti lingkungan, otak, organisasi, pengalaman, pelatihan dan ketidakmampuan untuk mengakses informasi tersebut bila diperlukan.

Berikut ini merupakan diskusi tentang banyak definisi intuisi dalam literatur (Barnard 1938). Barnard (1938) adalah salah satu penulis paling awal di bidang ini. Dia tidak menganggap non-logis proses pengambilan keputusan sebagai hal yang ajaib dalam arti apapun, ia berpendapat bahwa intuisi didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman.

Readmore..

How To Developing a Succesful Internet Business

| | 0 komentar


Developing a successful Internet business is the ultimate goal of the Internet entrepreneur. However, statistics show that most Internet businesses never make any real money.

Making money on the Internet isn't easy -- it takes a great deal of time and effort and requires a total commitment. You must be completely passionate about your business and have a sincere desire to succeed. Anything less will be a complete waste of your time and will most likely result in failure.

You must also realize that success isn't going to happen overnight. There will be many obstacles along the way and a great deal to be learned. However, anything worth having is worth working towards and won't come easy. There will be many long days and sleepless nights. However, if everything falls into place, and you plan each step very carefully, the end will justify the means.

The largest obstacle you will ever encounter is fear -- fear of the unknown -- fear of change -- fear of failing. Fear is the root of failure and prevents dreamers from living their true passion. They fail to try.

Above all else, you must take the first step to overcome your fears. With each step you take, you will become a little closer to achieving your dreams. As long as you keep trying, you'll never fail.

There are many common characteristics shared by successful Internet
entrepreneurs. Below are some of the most important:

Set Your Goals

Set your goals and write them down on a piece of paper. Set short- term reachable goals and long-term higher goals. However, don't set them too high, as this will cause you to become discouraged if you don't achieve them.

Work consistently toward accomplishing your goals each day, each week and each month until you reach your short-term goals. When you have attained your short-term goals, set them a little higher each time -- ultimately you will achieve your long-term goals.

Self-Disciplined

Get up early each day just as if you were working outside your home. You have to take your business very seriously and be completely self- disciplined.

Self-Motivated

Set up a daily schedule and stick to it. Your own personal drive will have a great impact on your success. You must have the ability to work independently and stay on task.

Positive Attitude

Your attitude is one of the most important factors that will determine your success. Your attitude will either guarantee your success or guarantee your failure. If you have a positive attitude and believe in yourself above all else, you will succeed.

Organizational Skills

Create a list of all the things you want to accomplish during the day. This will give you an organized approach to each day.

Attention to Detail

Whatever you're doing, do it to the best of your ability. Pay close attention to detail. Nothing is ever going to be perfect, as you're only human. However, if something is worth doing, it's worth doing right.

Developing your own Internet business is one of the most difficult, yet rewarding experiences of a lifetime. It is a continuous learning experience and will be filled with many valuable lessons you will carry with you for the rest of your life -- some good, some bad, but lessons still the same.

Although there aren't any shortcuts to achieving your dreams, there is something you can do to speed up the process -- Don't try to reinvent the wheel. Follow in the footsteps of successful Internet entrepreneurs who are already successful. Not only will you save yourself a lot of time and money, but you'll also have a road map to success.

By Shelley Lowery

Readmore..

How To Brainstorming Help You Think Better

| | 1 komentar



How To Brainstorming Help You Think Better
Brainstorming is an essentialpart of good thinking, and it is also an essential part of coming to good decisions. 
How does brainstorming help you think better and make better decisions? 

First, it helps you get outgood ideas and information.

Second, it fosters creativity; it encourages people to see possibilities. Brainstorming causes you to stretch to not stop at the first thing that comes to your mind but to keep thinking.

Third, it encourages every-one in a group to participate.Fourth, brainstorming is fun, and causes us to get caught up with thinking in away that makes us want to think some more. Brainstorming is a part of many Exploring activities, like developing your year’s program of activities.

This how-to section offers some suggestions to helpmake brainstorming happen. We’ll look at some suggestions toapply to yourself, and at some guidelines to apply to a group brainstorming together.Individual Suggestions The following are some suggestions to help you get in the
mind-set to brainstorm.

• Relax. Let pictures freely come to your mind.

• Concentrate on what you’re brainstorming about. Try toget everything else off your mind and focus on the subject at hand.

•Don’t criticize or judge your own ideas internally. If you do, you’ll start hesitating and being too careful.

• Take creative risks; think in terms of no limits.

• Believe in and use your own experiences as a springboard for ideas. Each person has all the experiences he or she needs for brainstorming.

Group Guidelines Now you’re ready. The next step is to help create the right kind of environment for the group to brainstorm together. You contribute to this kind of environment when you

• Encourage as many ideas as possible.

• Don’t judge ideas (as good or bad) during brainstorming.

•Don’t look ahead to making decisions; stay totally in the brainstorming mind-set.

• Build on one another’s ideas.

• Encourage participation from everyone in the group.

•Don’t worry about the words you’re using to express an idea. Simply try to describe the picture you’re seeing.

•List the ideas that your group comes up with so that you don’t lose them. When you engage in brain-storming, think about the two words that make up this word.

Once you experience brain-storming, you’ll realize that it is like a storm in the brain. Ideas begin to flow that you never knew you had—and one idea breeds another idea, and that idea breeds yet another. Brainstorming often surprises people. It blows off the thoughts that lie on top and exposes ideas we are often unaware are inside of us.

Readmore..

Mendapatkan Ide Cemerlang Dengan Brainstorming

| | 1 komentar



Teknik Brainstorm Untuk Mendapatkan Ide Cemerlang
Saat ada permasalahan yang memerlukan solusi cemerlang atau saat kita merencanakan ide kegiatan yang menarik, teknik brainstorming sangat efektif digunakan. Namun, banyak yang kurang memahami point  penting yang   merupakan nilai  lebih  penggunaan metode brainstorming. Berikut ini aturan pokok cara dalam brainstorming.


1  | Ide Tanpa Batas
Dalam mengumpulkan ide-ide dari kelompok, semua pendapat diterima. Tak ada yang boleh mengkritik, menyanggah atau melewatkan satu ide pun. Segila apapun ide itu, entah logis atau tidak logis, semua diterima. Jangan biarkan satu orangpun ragu untuk mengungkapkan setiap   ide   yang   terlintas di kepala   mereka.   Siapa tahu   solusi   jitu   yang   dicari berawal dari
sebuah ide yang dianggap aneh atau tak masuk akal.


2  | Batasi Waktu
Waktu yang terbatas akan membuat pikiran bekerja lebih keras. Batasi proses brainstorming dengan singkat,sekitar 10 sampai 20 menit.   Pastikan   brainstorming   dimulai   dan   diakhiri tepat   waktu.   Singkatnya   waktu   juga   penting   untuk mengurangi   candaan   yang   tidak   perlu, meskipun   tidak dilarang. Karena ide cemerlang kadang   keluar   saat   kita mencari   ide   yang konyol untuk bercanda.


3  | CATAT
Yang tak boleh tertinggal dalam brainstorming adalah satu orang yang cukup cekatan untuk mencatat semuanya. Semua usulan yang masuk wajib dicatat. Lebih baik jika catatan dibuat dengan model    “mind   maping”    sehingga pada akhirnya mudah di riview  dan  diambil kesimpulan. Jangan   ragu   untuk mencatat dengan   alat   yang   paling   kamu   anggap   efektif. Misalnya white board, lembaran kertas kecil, notebook, atau bahkan merekamnya.


4  | Utamakan Kuantitas, Bukan Kualitas
Tujuan utama brainstorming adalah   mencari   ide   sebanyak mungkin.    Jangan   berhenti sejenak untuk melihat dan menilai ide-ide yang telah terkumpul. Prinsipnya, semakin banyak ide yang masuk, semakin besar kemungkinan salah satu dari ide-ide itu adalah solusi yang paling cemerlang.


5  | Gunakan Kedua Belah Otak
Orang   yang   sedang   berpikir   serius   biasanya   hanya menggunaka   otak   kiri.   Di   sisi   lain,   ide kreatif memerlukan   otak   kanan   kita.   Itulah   pentingnya   tak ada   larangan   untuk   bercanda, asal porsinya tak terlalu banyak. Cara mencatat ide yang terkumpul dengan pena berwarna dan format menarik juga merangsang kerja otak kanan kita.


6  | Have Fun
Sangat penting   membuat      suasana    saat   brainstorming     tetap   menyenangkan. Makanya seorang pemimpin diskusi harus mampu mengawali diskusi dengan sesuatu yang membuat suasana menyenangkan.


7  | Sekali lagi, JANGAN TERLEWATKAN
Seaneh apapun    ide  itu,  sekalipun   seperti   tak  ada hubungannya dengan masalah yang dibahas, jika memang  terlintas di  pikiran  jangan   sampai  tidak disampaikan.   Keragu-raguan untuk mengungkapkan ide yang terlintas akan beresiko membuat ide bagus terlewatkan.


Secara umum, prinsip  brainstorming seperti memilih mangga terbaik. Semakin banyak mangga dihadapan kita,  semakin besar kemungkinan  kita  menemukan mangga dengan kualitas   terbaik. Group   problem   solving   atau   menyelesaikan   masalah bersama-sama akan sangat efektif jika kita memperhatikan 7 aturan brainstorming di atas.


 sumber www.studyFUN.wordpress.com
                      

<

Readmore..

Kisah Penebang Kayu, Berhentilah Sejenak Asah Keimanan

| | 3 komentar

Motivasi Diri
Sebuah cerita tentang seorang penebang kayu yang menebang kayu dengan kapaknya. Setiap hari dia menebang kayu untuk dijual. Setiap pagi dia pergi ke hutan dan pulang menjelang matahari terbenam. Sesampai di rumah dia istirahat untuk menunggu hari esok, saat matahari terbit untuk kembali pergi ke hutan
menebang kayu.

Hal tersebut dia lakukan terus menerus tanpa henti. Namun lama kelamaan hasil tebangannya mulai menurun. Lambat tetapi pasti, kayu yang dia bawa pulang berkurang terus dari hari ke hari. Melihat hasil yang berkurang terus menerus, dia memutuskan untuk menambah jam kerjanya. Dia pergi lebih pagi dan pulang lebih sore.

Awalnya, dengan penambahan jam kerja tersebut, hasil tebangannya sedikit bertambah. Namun setelah beberapa lama berkurang kembali seperti semula, seakan penambahan waktu tidak ada gunanya. Bahkan suatu waktu hasil tebangan yang dilakukan secara lembur hasilnya lebih sedikit dibanding penebangan yang dia lakukan pada saat awal karir dia sebagai penebang kayu.

Sampai suatu saat dia bertemu dengan seorang penebang kayu lainnya. Penebang kayu yang baru dikenalnya itu menggunakan jenis kapak yang sama dan waktu yang digunakan untuk menebang juga sama. Tetapi hasil yang diperoleh penebang tersebut tidak pernah menurun. Ini membuat dia merasa keheranan, mengapa hasil produksinya menurun sementara temannya tidak?
Akhirnya dia menanyakan rahasia kepada teman barunya itu, bagaimana agar hasil tebangannya tidak menurun. Temannya menjawab, bahwa rahasianya sangat sederhana, dia rajin mengasah kapaknya agar selalu tajam. Namun penebang itu menjawab bahwa dia tidak punya waktu untuk mengasah kapaknya, dia sibuk untuk mengejar jumlah produksi agar bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Temannya yang bijak berkata, "Kamu memang menghabiskan beberapa waktu untuk mengasah kapakmu. Tetapi waktu yang kamu gunakan untuk mengasak kapak akan terganti, sebab kamu akan menebang kayu lebih cepat."

Kita pun sama, kita memiliki "kapak" meski dalam bentuk lain yang harus selalu kita asah agar tetap produktif. Energi kita, jika digunakan akan berkurang, maka kita harus mengisinya kembali. Termasuk juga dengan iman, sering kali turun, maka kita harus menaikan iman kita kembali. Apakah kita merasa tidak punya waktu? 
Oleh Rahmat* ( motivasi-islami.com )


Readmore..

10 Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosi

| | 16 komentar


Daniel Goleman (Emotional Intelligence) menyebutkan bahwa kecerdasan emosi jauh lebih berperan ketimbang IQ atau keahlian dalam menentukan siapa yang akan jadi bintang dalam suatu pekerjaan.

Lewat suatu penelitian pelik terhadap lebih dari 500 perusahaan, ia menyimpulkan bahwa - tidak seperti IQ - EQ dapat diperbaiki, dan kita semua punya potensi untuk melakukannya.

Bagaimana kita dapat meningkatkannya?

1. Membaca situasi
Dengan memperhatikan situasi sekitar Anda, Anda akan mengetahui apa yang harus dilakukan. 

2. Mendengarkan dan menyimak lawan bicara
Anda yang selalu merasa benar punya kecenderungan untuk tidak mendengarkan kata orang lain. Luangkan waktu untuk melakukannya, maka Anda akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.

3. Siap berkomunikasi
Jurus ini memang paling ampuh. Lakukan selalu komunikasi biar pun pada situasi sulit.

4. Tak usah takut ditolak
Ada kalanya orang ragu-ragu bertindak karena takut ditolak orang lain. Sebelum berinisiatif, sebenarnya Anda cuma punya 2 pilihan: diterima atau ditolak. Jadi, siapkan saja diri Anda.
Yang penting, usaha.

5. Mencoba berempati
EQ tinggi biasanya didapati pada orang-orang yang mampu berempati atau bisa mengerti situasi yang dihadapi orang lain. Caranya, apalagi kalau bukan mendengarkan dengan baik ?

6. Pandai memilih prioritas
Ini perlu supaya Anda bisa memilih pekerjaan apa yang mendesak, dan apa yang bisa ditunda.

7. Siap mental
Sikap mental tempe itu sudah ketinggalan zaman. Situasi apa pun yang akan dihadapi, Anda mesti menyiapkan mental sebelumnya. Ingat, tak ada kesukaran yang tak bisa ditangani.
Paling tidak, Anda sudah berusaha.

8. Ungkapkan lewat kata-kata
Bagaimana orang bisa membaca pikiran Anda kalau Anda diam seribu bahasa? Ungkapkan pikiran Anda lewat kata-kata yang jelas.

9. Bersikap rasional
Betul, kecerdasan emosi berhubungan dengan perasaan. Tapi, tetap memerlukan pola pikir yang rasional, apa lagi dalam pekerjaan.

10. Fokus
Konsentrasikan diri Anda pada suatu masalah yang perlu mendapat perhatian. Jangan memaksa diri melakukannya dalam 4-5 masalah secara bersamaan. Dua atau 3 mungkin masih bisa ditangani, tapi lebih dari itu, Anda bisa kehabisan energi.

(Source: Hannie, astaga.com)

Readmore..

Spiritual Intelligence & Leadership

| | 2 komentar

Spiritual dan Leadership
Research is finally validating what many of us knew all along – that there is more to great leaders than brains. What research is now validating is that great leaders need to use their hearts and souls, as well as their minds! But let’s begin at the beginning…

In 1905 Alfred Binet and Theodore Simon developed the first modern intelligence test. Since that time we have been debating what “intelligence” is, where it comes from, and how to develop it.

Our “Intelligence Quotient” or “IQ” is generally thought of as our linear, analytical intelligence. Initially it was expected that IQ would be a strong predictor of success in careers. In fact it has turned out to be a weak predictor of success. IQ appears to be related to minimum standards to enter a given a profession. But once you have chosen your career, what actually leads to success is far more complicated.

Daniel Goleman popularized the phrase “Emotional Intelligence” with the publication of his book by the same title in 1995. In his book, Goleman cites research at Bell Labs that examined star performers, and tried to determine what distinguished them from more average performers. It appeared that star performers had stronger relationship skills than average performers. Harvard Business Review published the results of the Bell Labs study in 1993. Business interest in the study of “Emotional Intelligence” or “EQ” began in earnest.

Conscientiousness Influence
Adaptability Communication
Achievement Orientation Leadership
Initiative Conflict Management

There is a fascinating relationship among these quadrants. Research is showing that EQ begins in the Self Awareness quadrant. The degree to which we are self-aware literally limits our ability to be aware of others, or to manage ourselves. The last skills to develop are our Social Skills, being dependent on the other 3 quadrants. Self-awareness is dependent on listening to feedback. So a willingness to truly hear others is a prerequisite for high EQ.

It is interesting that Socrates gave the advice “Know Thyself” approximately 2400 years ago. The historical Buddha (roughly 2500 years ago) made the study of the mind (profound self-knowledge) such an elevated practice that it became a major world religion.

So what is the link to Spiritual Intelligence? Dana Zohar, a quantum physicist, gave a lecture at the Science and Consciousness conference in Albuquerque, New Mexico in April 2001. She was working on a new book on Spiritual Intelligence (or “SQ”), and at that time listed 9 characteristics of SQ. The first of Zohar’s points directly echoes the first quadrant of EQ – Self Awareness but goes beyond it to a sense of connection to the universe.

Spiritual Intelligence, according to Zohar, is: 
1. Self-Awareness … you know who you really are and you know that you are connected with the whole universe.
2. Vision & Values Led – or Idealism. Children naturally want to serve, and so do we. Vision and values led is definitive of our humanity.
3. The Capacity to Face and USE Adversity…owning our mistakes and adversity and using pain and tragedy to learn
4. To be Holistic: seeing the connections between things. Being open to and interested in EVERYTHING.
5. Diversity…thriving in and celebrating diversity. I look at you and see what is different in you and I say “Thank God for that!”
6. Field Independence (Courage)…a term from psychology that means the courage not to adapt, to be independent.
7. The Tendency to Ask WHY? Questions are infinite. In Quantum Physics questions CREATE reality.
8. The Ability to Re-Frame…put things into a larger context of meaning.
9. Spontaneity. This is NOT acting on a whim…it comes from the same Latin roots as RESPONSE and RESPONSIBILITY. It is not conditioned by fear. It is appropriately “responsive to” the world

Jim Collins became famous in the world of business with the publication of his first book, “Built to Last: Successful Habits of Visionary Companies” 

(HarperCollins, 1994) co-authored with James Porras. In it they described their in-depth research and their conclusions regarding 18 companies that were unique in their reputation in their industry, their resilience through hard times and their financial success over 50+ years. The central conclusion: truly great companies are Visionary and Values driven. This directly echoes Dr. Zohar’s 2nd characteristic of SQ.

In his latest book, “Good to Great: Why Some Companies Make the Leap and Others Don’t,” (HarperCollins 2001) Jim Collins researched 11 companies who made the transition from being good companies to being “great” companies on par with the companies in “Built to Last”. A key finding was that each companyhad what he calls “Level 5 Leadership” (see www.jimcollins.com for more information). As I read about Level 5 leaders I realized that they seemed to demonstrate most or all of the characteristics described as “SQ” by Zohar. In addition, they showed a profound personal humility and a powerful faith that they and their company would prevail in the end, regardless of the difficulties.

Self-awareness and cultivating inner strength (or faith) has a solid grounding in all of the major spiritual traditions. Jesus went into the wilderness to meditate and to hear the voice of the infinite creator, as did Abraham, Moses and Mohammed. Buddhists and Hindus practice meditation for these purposes as well.

The implications for leadership are clear. High IQ doesn’t guarantee a good leader. High EQ has been correlated with success. But does it alone create greatness? Sustained and recognized greatness, even in the tough world of Corporate America, is obtained by something deeper. If a corporate leader is willing to deeply know herself and her place in the universe, she can reach the graduate school of SQ. With SQ comes the ultimate success – obtaining company success in such a way that customers, employees and society all benefit. And after creating a great company, the high SQ person sincerely deflects all praise onto the “wonderful people of this organization.”

What if EQ and SQ skills became part of the curriculum for all leaders? With solid analysis such as Jim Collins’ leading the way, perhaps that day will soon come.
Daniel Goleman, lecture given at September 1999 Emotional Intelligence Conference, Chicago, IL

Readmore..

Apakah Kecerdasan Spiritual Itu (Spiritual Intellegence )?

| | 7 komentar

Spiritual Quotient
Kecerdasan spiritual atau spiritual intelligence atau spiritual quotient (SQ) ialah suatu intelegensi atau suatu kecerdasan dimana kita berusaha menyelesaikan masalah-masalah hidup ini berdasarkan nilai-nilai spiritual atau agama yang diyakini. Kecerdasan spiritual ialah suatu kecerdasan di mana kita berusaha menempatkan tindakan-tindakan dan kehidupan kita ke dalam suatu konteks yang lebih luas dan lebih kaya, serta lebih bermakna. Kecerdasan spiritual merupakan dasar yang perlu untuk mendorong berfungsinya secara lebih efektif, baik Intelligence Quotient (IQ) maupun Emotional Intelligence (EI). Jadi, kecerdasan spiritual berkaitan dengan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. 
Sumber:Widodo Gunawan, tersedia dalam http://suaraagape.org/wawasan/Ei2.php.

Hasil Penelitian para psikolog USA menyimpulkan bahwa Kesuksesan dan Keberhasilan seseorang didalam menjalani Kehidupan sangat didukung oleh Kecerdasan Emosional (EQ – 80 %), sedangkan peranan Kecerdasan Intelektual (IQ) hanya 20 % saja. Dimana ternyata Pusatnya IQ dan EQ adalah Kecerdasan Spiritual (SQ), sehingga diyakini bahwa SQ yang menentukan Kesuksesan dan Keberhasilan Seseorang. Dalam hal ini IQ dan EQ akan bisa berfungsi secara Baik/Efektif jika dikendalikan oleh SQ.
Hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati tahu hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh Pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerjasama, memimpin dan melayani. 

Hati Nurani akan menjadi pembimbing manusia terhadap apa yang harus ditempuh dan apa yang harus diperbuat, artinya setiap manusia sebenarnya telah memiliki sebuah Radar Hati sebagai pembimbingnya. Sebagaimana yang udiungkapkan JalaludinRumi : “Mata Hati punya kemampuan 70 kali lebih besar, untuk melihat kebenaran daripada dua indra penglihatan "

Pengertian SQ (Spiritual Quotient), Menurut Danah Zohar, kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan diluar ego atau jiwa sadar. Pandangan lain juga dikemukakan olehMuhammad Zuhri, bahwa SQ adalah kecerdasan manusia yang digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan. Asumsinya adalah jika seseorang hubungan dengan Tuhannya baik maka bisa dipastikan hubungan dengan sesama manusiapun akan baik pula.

Ternyata setelah disadari oleh manusia, bahagia sebagai sebuah perasaan subyektif lebih banyak ditentukan dengan rasa bermakna. Rasa bermakna bagi manusia lain, bagi alam, dan terutama bagi kekuatan besar yang disadari manusia yaitu Tuhan. Manusia mencari makna, inilah penjelasan mengapa dalam dalam keadaan pedih dan sengsara sebagian manusia masih tetap dapat tersenyum. Karena bahagia tercipta dari rasa bermakna, dan ini tidak identik dengan mencapai cita-cita.

Kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence). Ini adalah kecerdasan manusia dalam memberi makna. Perawat yang memiliki taraf kecerdasan spiritual tinggi mampu menjadi lebih bahagia dan menjalani hidup dibandigkan mereka yang taraf kecerdasan spiritualnya rendah. Dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak diharapkan, kecerdasan spiritual mampu menuntun manusia untuk menemukan makna.

Manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan. Ada yang merasa hidupnya bermakna dengan menyelamatkan anjing laut. Ada yang merasa bermakna dengan membuat lukisan indah. Bahkan ada yang merasa mendapatkan makna hidup dengan menempuh bahaya bersusah payah mendaki puncak tertinggi
Everest di pegunungan Himalaya. 

Karena manusia dapat merasa memiliki makna dari berbagai hal, agama (religi) mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang lebih jauh. Bermakna di hadapan Tuhan. Inilah makna sejati yang diarahkan oleh agama, karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal.

Ada kesan yang salah bahwa, para orang sukses bukanlah orang yang relijius. Hal ini disebabkan pemberitaan tentang para koruptor, penipu, konglomerat rakus, yang memiliki kekayaan dengan jalan tidak halal. Karena orang-orang jahat ini 'tampak' kaya, maka sebagian publik mendapat gambaran bahwa orang kaya adalah orang jahat dan rakus, para penindas orang miskin. Sebenarnya sama saja, banyak orang miskin yang juga jahat dan rakus. Jahat dan rakus tidak ada hubungan dengan kaya atau miskin.
Para orang sukses sejati, yang mendapatkan kekayaan dengan jalan halal, ternyata banyak yang sangat relijius. Mereka menyumbangkan hartanya di jalan amal. Mereka mendirikan rumah sakit, panti asuhan, riset kanker, dan berbagai yayasan amal. Dan kebanyakan dari mereka menghindari publikasi. Berbagai studi menunjukkan bahwa para orang sukses sejati menyumbangkan minimal 10 persen dari pendapatan kotor
untuk kegiatan amal, bahkan saat dulu mereka masih miskin. Mereka menyadari bahwa kekayaan mereka hanyalah titipan dari Tuhan, 'silent partner' mereka.

Akhirnya melalui kecerdasan spiritual manusia mampu menciptakan makna untuk tujuan-tujuannya. Hasil dari kecerdasan aspirasi yang berupa cita-cita diberi makna oleh kecerdasan spiritual. Melalui kecerdasan spiritual pula manusia mampu tetap bahagia dalam perjalanan menuju teraihnya cita-cita. Kunci bahagia adalah Kecerdasan Spiritual. Kecerdasan spiritual (SQ) berkait dengan masalah makna, motivasi, dan tujuan hidup sendiri. Jika IQ berperan memberi solusi intelektual-teknikal, EQ meratakan jalan membangun relasi sosial, SQ mempertanyakan apakah makna, tujuan,dan filsafat hidup seseorang.

Menurut Ian Marshall dan Danah Zohar, penulis buku SQ, The Ultimate Intelligence, tanpa disertai kedalaman spiritual, kepandaian (IQ) dan popularitas (EQ) seseorang tidak akan memberi ketenangan dan kebahagiaan hidup. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, berbagai pakar psikologi dan manajemen di Barat mulai menyadari betapa vitalnya aspek spiritualitas dalam karier seseorang, meski dalam menyampaikannya terkesan hati-hati. Yang fenomenal, tak kurang dari Stephen R Covey meluncurkan buku The 8th Habit (2004), padahal selama ini dia sudah menjadi ikon dari teori manajemen kelas dunia. Rupanya Covey sampai pada kesimpulan, kecerdasan intelektualitas dan emosionalitas tanpa bersumber spiritualitas akan kehabisan energi dan berbelok arah.

Di Indonesia, krisis kepercayaan terhadap intelektualitas kian menguat saat bangsa yang secara ekonomi amat kaya ini dikenal sebagai sarang koruptor dan miskin, padahal hampir semua yang menjadi menteri maupun birokrat memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Asumsi bahwa kesarjanaan dan intelektualitas akan mengantar masyarakat yang damai dan bermoral digugat Donald B Caine dalam buku: Batas Nalar, Rasionalitas dan Perilaku Manusia yang sedang dibicarakan banyak orang. Mengapa bangsa Jerman yang dikenal paling maju pendidikannya dan melahirkan banyak pemikir kelas dunia pernah dan bisa berbuat amat kejam? Pertanyaan serupa bisa dialamatkan kepada Inggris, Amerika Serikat, dan Israel.

APA CIRI ORANG YANG MEMILKI SPIRITUAL INTELLEGENCY.

Lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A. Emmons, The Psychology of Ultimate Concerns: (1) kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material; (2) kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak; (3) kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari; (4) kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah; dan kemampuan untuk berbuat baik. 
Dua karakteristik yang pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. perawat yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material. Ia memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. Ia merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indrianya. Sebagai contoh perawat menyampaikan doa-doa personalnya dalam salat malamnya, mendoakan kesembuhan luka kliennya, memuali tindakan dengan bismillah, mengisi waktu luang dengan Sholat dluha, silaturahmi dengan keluarga klien.

Ciri yang ketiga, terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Konon, pada abad pertengahan seorang musafir bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang mengangkut batu-bata. Salah seorang di antara mereka bekerja dengan muka cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru
bekerja dengan ceria, gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, “Apa yang sedang Anda kerjakan?” Yang cemberut menjawab, “Saya sedang menumpuk batu.” Yang ceria berkata, “Saya sedang membangun menara mesjid!” Yang kedua telah mengangkat pekerjaan “menumpuk bata” pada dataran makna yang lebih luhur.

“The fifth and final component of spiritual intelligence refers to the capacity to engage in virtuous behavior: to show forgiveness, to express gratitude, to be humble, to display compassion and wisdom,” tulis Emmons. Memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan terimakasih, bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang dan kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristik terakhir ini mungkin disimpulkan dalam sabda nabi Muhammad saw, “Amal paling utama ialah engkau masukkan rasa bahagia pada sesama manusia.”

BAGAIMANA MENINGKATKAN SQ 
Jadilah suri tauladan spiritual. Orang tua atau guru yang bermaksud mengembangkan SQ anak haruslah seseorang yang sudah mengalami kesadaran spiritual juga. Ia sudah “mengakses” sumber-sumber spiritual untuk mengembangkan dirinya. Seperti disebutkan di atas yakni karakteristik orang yang cerdas secara spiritual, ia harus dapat merasakan kehadiran dan peranan Tuhan dalam hidupnya. “Spiritual intelligence is the faculty of our non-material dimension- the human soul,” kata Khalil Khavari. Ia harus sudah menemukan makna hidupnya dan mengalami hidup yang bermakna. Ia tampak pada orang-orang di sekitarnya sebagai “orang yang berjalan dengan membawa cahaya.” (Al-Quran 6:122) 

Ia tahu ke mana ia harus mengarahkan bahteranya. Ia pun menunjukkan tetap bahagia di tengah taufan dan badai yang melandanya. “Spiritual intelligence empowers us to be happy in spite of circumstances and not because of them,” masih kata Khavari. Bayangkalah masa kecil kita dahulu. Betapa banyaknya perilaku kita terilhami oleh orang-orang yang sekarang kita kenal sebagai orang yang ber SQ tinggi. Dan orang-orang itu boleh jadi orang-tua kita, atau guru kita, atau orang-orang kecil di sekitar kita.

Baca Kitab Suci. Setiap agama pasti punya kitab suci. Begitu keterangan guru-guru kita. Tetapi tidak setiap orang menyediakan waktu khusus untuk memperbincangkan kitab suci dengan klien atau anak-anaknya. Di antara pemikir besar islam, yang memasukkan kembali dimensi ruhaniah ke dalam khazanah pemikiran Islam, adalah Dari Muhammad Iqbal. Walaupun ia dibesarkan dalam tradisi intelektual barat, ia melakukan pengembaraan ruhaniah bersama Jalaluddin Rumi dan tokoh-tokoh sufi lainnya. Boleh jadi, yang membawa Iqbal ke situ adalah pengalaman masa kecilnya.
Setiap selesai salat Subuh, ia membaca Al-Quran. Pada suatu hari, bapaknya berkata, “Bacalah Al-Quran seakan-akan ia diturunkan untukmu!” Setelah itu, kata Iqbal, “aku merasakan Al-Quran seakan-akan berbicara kepadaku.”

Ceritakan kisah-kisah agung. Klien atau Anak-anak, bahkan orang dewasa, sangat terpengaruh dengan cerita. “Manusia,” kata Gerbner, “adalah satu-satunya makhluk yang suka bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang dipercayainya.” Para Nabi mengajar umatnya dengan parabel atau kisah perumpamaan. Para sufi seperti Al-‘Attar, Rumi, Sa’di mengajarkan kearifan perenial dengan cerita. Sekarang Jack Canfield memberikan inspirasi pada jutaan orang melalui Chicken Soup-nya. Kita tidak akan kekurangan cerita luhur, bila kita bersedia menerima cerita itu dari semua sumber.

Diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah. Melihat dari perspektif ruhaniah artinya memberikan makna dengan merujuk pada Rencana Agung Ilahi (divine grand Design). Mengapa hidup kita menderita? Kita sedang diuji Tuhan. Dengan mengutip Rumi secara bebas, katakan kepada anak kita bahwa bunga mawar di taman bunga hanya mekar setelah langit menangis. Anak kecil tahu bahwa ia hanya akan memperoleh air susu dari dada ibunya setelah menangis. Penderitaan adalah cara Tuhan untuk membuat kita menangis. Menangislah supaya Sang Maha Agung memberikan susu keabadian kepadamu. Mengapa kita bahagia? Perhatikan bagaimana Tuhan selalu mengasihi kita, berkhidmat melayani keperluan kita, bahkan jauh sebelum kita dapat menyebut asma-Nya.

Libatkan klien, keluaraga atau anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan. Kegiatan agama adalah cara praktis untuk “tune in” dengan Sumber dari Segala Kekuatan. Ambillah bola lampu listrik di rumah Anda. Bahaslah bentuknya, strukturnya, komponen-komponennya, kekutan cahayanya, voltasenya, dan sebagainya. Anda pasti menggunakan sains. Kegiatan agama adalah kabel yang menghubungkan bola lampu itu dengan sumber cahaya. Sembahyang, dalam bentuk apa pun, mengangkat manusia dari pengalaman fisikal dan material ke pengalaman spiritual. Untuk itu, kegiatan keagamaan tidak boleh dilakukan dengan terlalu banyak menekankan hal-hal yang formal. Berikan kepada anak-anak kita makna batiniah dari setiap ritus yang kita lakukan. Sembahyang bukan sekedar kewajiban. Sembahyang adalah kehormatan untuk menghadap Dia yang Mahakasih dan Mahasayang!

Bacakan puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional. Seperti kita sebutkan di atas, manusia mempunyai dua fakultas –fakultas untuk mencerap hal-hal material dan fakultas untuk mencerap hal-hal spiritual. Kita punya mata lahir dan mata batin. Ketika kita berkata “masakan ini pahit”, kita sedang menggunakan indra lahiriah kita. Tetapi ketika kita berkata “keputusan ini pahit”, kita sedang menggunakan indra batiniah kita. Empati, cinta, kedamaian, keindahan hanya dapat dicerap dengan fakultas spiritual kita (Ini yang kita sebut sbg SQ). SQ harus dilatih. Salah satu cara melatih SQ ialah menyanyikan lagu-lagu ruhaniah atau membacakan puisi-puisi. Jika Plato berkata “pada sentuhan cinta semua orang menjadi pujangga”, kita dapat berkata “pada sentuhan puisi semua orang menjadi pecinta.”

Bawa klien, keluarga atau anak untuk menikmati keindahan alam. Teknologi moderen dan kehidupan urban membuat kita teralienasi dari alam. Kita tidak akrab lagi dengan alam. Setiap hari kita berhubungan dengan alam yang sudah dicemari, dimanipulasi, dirusak. Alam tampak di depan kita sebagai musuh setelah kita memusuhinya. Bawalah anak-anak kita kepada alam yang relatif belum banyak tercemari. Ajak mereka naik ke puncak gunung. Rasakan udara yang segar dan sejuk.
Dengarkan burung-burung yang berkicau dengan bebas. Hirup wewangian alami. Ajak mereka ke pantai. Rasakan angin yang menerpa tubuh. Celupkan kaki kita dan biarkan ombak kecil mengelus-elus jemarinya. Dan seterusnya. Kita harus menyediakan waktu khusus bersama mereka untuk menikmati ciptaan Tuhan, setelah setiap hari kita dipengapkan oleh ciptaan kita sendiri.

Bawa klien atau anak kita ke tempat-tempat orang yang menderita. Nabi Musa pernah berjumpa dengan Tuhan di Bukit Sinai. Setelah ia kembali ke kaumnya, ia merindukan pertemuan dengan Dia. Ia bermunajat, “Tuhanku, di mana bisa kutemui Engkau.” Tuhan berfirman, “Temuilah aku di tengah-tengah orang-orang yang hancur hatinya.” 

Ikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial. Saya teringat cerita nyata dari Canfield dalam Chicken Soup for the Teens. Ia bercerita tentang seorang anak yang “catatan kejahatannya lebih panjang dari tangannya.” Anak itu pemberang, pemberontak, dan ditakuti baik oleh guru maupun kawan-kawannya. Dalam sebuah acara perkemahan, pelatih memberikan tugas kepadanya untuk mengumpulkan makanan untuk disumbangkan bagi penduduk yang termiskin. Ia berhasil memimpin kawan-kawannya untuk mengumpulkan dan membagikan makanan dalam jumlah yang memecahkan rekor kegiatan sosial selama ini. Setelah makanan, mereka mengumpulkan selimut dan alat-alat rumah tangga. Dalam beberapa minggu saja, anak yang pemberang itu berubah menjadi anak yang lembut dan penuh kasih. Seperti dilahirkan kembali, ia menjadi anak yang baik rajin, penyayang, dan penuh tanggungjawab. 
Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak. Sumber : Jalaluddin Rakhmat
http://www.muthahhari.or.id/doc/artikel/sqanak.htm

Readmore..
 

Pengikut

© Copyright 2011 All rights reserved | www.intuisibisnis.com is proudly powered by INTUISI BISNIS KREATIVITAS VISION | Template by o-om.com - PRAYA URIP Store